Profil Desa
Deskripsi Profil Desa Cempaga, Buleleng:Desa Cempaga adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa ini dikenal dengan keindahan alamnya, budaya yang kaya, dan kehidupan masyarakat yang masih kental dengan tradisi. Desa Cempaga menawarkan pengalaman otentik bagi para pengunjung yang ingin merasakan suasana pedesaan Bali yang masih asli.Sejarah Desa CempagaDesa Cempaga memiliki sejarah panjang yang terkait dengan perkembangan budaya dan agama di Bali. Seperti banyak desa di Bali, sejarah Desa Cempaga berkaitan erat dengan penyebaran agama Hindu dan pengaruh kerajaan-kerajaan Bali kuno.Menurut cerita masyarakat setempat, Desa Cempaga didirikan oleh sekelompok orang yang mencari tempat tinggal baru yang subur dan strategis. Mereka menemukan lokasi yang sekarang menjadi Desa Cempaga dan menetap di sana, membangun kehidupan yang teratur dengan tata cara adat yang mereka bawa.Nama "Cempaga" sendiri berasal dari nama pohon Cempaka, yang banyak tumbuh di daerah ini dan memiliki makna sakral dalam budaya Bali. Pohon Cempaka sering digunakan dalam upacara keagamaan dan simbol kesucian.Penduduk Desa Cempaga menjalani kehidupan yang kental dengan adat istiadat dan tradisi Bali. Salah satu tradisi yang masih dijalankan adalah upacara Ngaben, yaitu upacara pembakaran jenazah yang merupakan bagian penting dari siklus kehidupan umat Hindu di Bali. Selain itu, berbagai upacara adat lainnya juga rutin dilaksanakan, memperkuat rasa kebersamaan dan spiritualitas masyarakat desa.Struktur desa yang tertata rapi dengan pura-pura yang menjadi pusat kegiatan keagamaan menunjukkan betapa pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cempaga. Pura Desa dan Pura Puseh adalah dua pura utama yang menjadi tempat pemujaan dan pelaksanaan berbagai upacara adat.Selain kekayaan budayanya, Desa Cempaga juga dikenal dengan keindahan alamnya. Desa ini dikelilingi oleh pegunungan dan sawah terasering yang hijau, menciptakan pemandangan yang memukau. Potensi alam ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk bercocok tanam dan berkebun, yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama mereka.Meskipun telah mengalami berbagai perubahan seiring perkembangan zaman, Desa Cempaga tetap mempertahankan keaslian budayanya. Masyarakat desa terus berusaha menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Hingga saat ini, Desa Cempaga menjadi salah satu tujuan wisata budaya dan alam di Buleleng, menarik minat para wisatawan yang ingin merasakan keindahan dan keunikan budaya Bali.
Peta Desa
Potensi Desa
Acara
01 Maret 2020
Ribuan warga adat Desa Cempaga berkumpul di halaman Pura Desa Cempaga. Desa Bali Aga ini, yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, memiliki tarian sakral yang unik dan berbeda dari desa lainnya di Bali.Desa Cempaga, salah satu desa tua di jantung Kabupaten Buleleng, merayakan upacara keagamaan pada Manis Langkir Kuningan, Minggu (1/3) pukul 08.00 WITA di Pura Desa. Beberapa tarian sakral yang dipentaskan termasuk Tari Jangkang, Tari Baris, Baris Jojor, Baris Dadap, Tari Pendet, dan berbagai jenis Tari Rejang seperti Rejang Beneh, Rejang Tuding Pelayon, Rejang Lilit Nyali, Rejang Sirig Buntas, Rejang Embung Kelor, Rejang Galuh, Rejang Pengecek Galuh, Rejang Dephe, Rejang Bungkol, Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Legong, dan Rejang Unda.Upacara ini berlangsung selama tiga hari, dengan puncaknya pada Senin (2/3). Selain warga adat Cempaga yang melakukan persembahyangan sambil mementaskan tarian sakral, warga adat dari Desa Tukad Mungga dan Anturan juga ikut menyaksikan rangkaian upacara ini. Ketiga desa tersebut memiliki sejarah adat yang erat dan saling menghormati leluhur masing-masing.Kepala Desa Cempaga, Putu Suarjaya, menjelaskan bahwa pementasan tarian sakral dilakukan setiap enam bulan sekali atau saat Sabo Muayon, sebuah upacara besar tahunan. Di Cempaga, sebagian besar tarian diperankan oleh anak-anak muda, meskipun ada beberapa tarian yang dibawakan oleh orang yang lebih tua.Suarjaya menambahkan bahwa tarian-tarian tersebut memiliki unsur magis yang sangat tinggi. Para penari, yang sebagian besar adalah anak muda, telah terlatih dan mampu mengikuti irama gamelan dengan baik.Wakil Klian Adat Cempaga, Jro Nyoman Suteja, menyatakan bahwa pementasan tarian sakral telah dilakukan secara turun-temurun dan tetap dilestarikan hingga hari ini. Menurutnya, pementasan tarian ini bertujuan untuk memperingati kemenangan Darma melawan Adarma. Tarian sakral ini semakin digemari oleh anak muda Cempaga, yang dengan semangat ikut menari dan mendapat dukungan kuat dari orang tua mereka.Selain itu, gamelan yang digunakan dalam pementasan juga dianggap sakral dan hanya boleh dimainkan di pura desa, tidak boleh dibawa keluar desa.sumber : link
Berita
Desa Cempaga, salah satu desa tertua yang dikenal sebagai Desa Bali Aga, terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Kecamatan Banjar memiliki lima Desa Bali Aga yang sering disingkat SCTPB (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyuseri). Desa Cempaga sendiri terdiri dari dua dusun: Dusun Corot dan Dusun Desa. Selain usianya yang tua, desa ini terkenal dengan tradisi unik dan kekayaan budayanya yang luar biasa.Lokasi dan Lingkungan AlamDesa Cempaga berada di dataran tinggi dengan pemandangan alam yang memukau. Dari sini, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut yang indah, hutan desa yang alami, serta air terjun yang menakjubkan. Keindahan alam ini menjadikan Desa Cempaga sebagai salah satu destinasi wisata potensial di Kabupaten Buleleng.Tradisi dan Tari SakralDaya tarik utama Desa Cempaga adalah berbagai tarian sakral yang dimilikinya. Desa ini memiliki banyak jenis tarian sakral, seperti Tari Jangkang, Tari Baris (termasuk Baris Jojor dan Baris Dadap), serta berbagai jenis Tari Rejang. Beberapa jenis Tari Rejang yang ada di Desa Cempaga meliputi:Rejang BenehRejang Tuding PelayonRejang Lilit NyaliRejang Sirig BuntasRejang Embung KelorRejang KepetRejang GaluhRejang Pengecek GaluhRejang DepheRejang BungkolRejang RentengRejang LilitRejang LegongRejang UndaTari Jangkang, salah satu tarian unik dari desa ini, dibawakan oleh anak-anak yang sudah mepinggah (sudah ganti gigi) dan dipentaskan sehari setelah Hari Raya Kuningan di Pura Desa Cempaga. Tarian ini melambangkan prajurit perang dharma melawan adharma.Nyepi Adat dan Tradisi NgabenDesa Cempaga juga memiliki tradisi Nyepi Adat yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali setelah upacara Ngaben desa. Tradisi ini bertujuan untuk menyucikan lingkungan desa setelah prosesi Ngaben. Selama Nyepi Adat, masyarakat melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 jam dan menutup akses keluar masuk desa. Pelaksanaan Ngaben biasanya dilakukan saat Sasih Kanem, ketika hujan dianggap dapat melebur dan menghilangkan segala kotoran.Peran Pura dan Upacara KeagamaanPura Puseh Agung Desa Cempaga merupakan pusat spiritual dan kegiatan keagamaan di desa ini. Salah satu tarian sakral yang ditarikan di pura ini adalah Tari Rejang, yang melambangkan widyadara widyadari dalam menuntun Dewata yang berstana di Desa Cempaga. Tarian ini ditarikan oleh kelompok wanita desa pada malam hari hingga pagi hari sebelum upacara selesai. Tari Rejang menggambarkan keanggunan dan pesona seorang wanita, seolah bidadari turun dari kayangan.Pariwisata dan Pengembangan DesaDengan segala keunikan dan kekayaan budaya serta alam yang dimilikinya, Desa Cempaga memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata. Keindahan alam, tradisi yang kaya, dan tarian sakral yang mempesona membuat desa ini menjadi tujuan menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan keaslian budaya Bali Aga.Desa Cempaga bukan hanya sekadar desa tua, tetapi juga sebuah komunitas yang mempertahankan dan merayakan warisan budaya mereka dengan penuh semangat. Tradisi unik dan kekayaan alamnya menjadikan Desa Cempaga sebagai salah satu permata tersembunyi di Kabupaten Buleleng, Bali.
BacaKontak