01 Maret 2020
Ribuan warga adat Desa Cempaga berkumpul di halaman Pura Desa Cempaga. Desa Bali Aga ini, yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, memiliki tarian sakral yang unik dan berbeda dari desa lainnya di Bali.Desa Cempaga, salah satu desa tua di jantung Kabupaten Buleleng, merayakan upacara keagamaan pada Manis Langkir Kuningan, Minggu (1/3) pukul 08.00 WITA di Pura Desa. Beberapa tarian sakral yang dipentaskan termasuk Tari Jangkang, Tari Baris, Baris Jojor, Baris Dadap, Tari Pendet, dan berbagai jenis Tari Rejang seperti Rejang Beneh, Rejang Tuding Pelayon, Rejang Lilit Nyali, Rejang Sirig Buntas, Rejang Embung Kelor, Rejang Galuh, Rejang Pengecek Galuh, Rejang Dephe, Rejang Bungkol, Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Legong, dan Rejang Unda.Upacara ini berlangsung selama tiga hari, dengan puncaknya pada Senin (2/3). Selain warga adat Cempaga yang melakukan persembahyangan sambil mementaskan tarian sakral, warga adat dari Desa Tukad Mungga dan Anturan juga ikut menyaksikan rangkaian upacara ini. Ketiga desa tersebut memiliki sejarah adat yang erat dan saling menghormati leluhur masing-masing.Kepala Desa Cempaga, Putu Suarjaya, menjelaskan bahwa pementasan tarian sakral dilakukan setiap enam bulan sekali atau saat Sabo Muayon, sebuah upacara besar tahunan. Di Cempaga, sebagian besar tarian diperankan oleh anak-anak muda, meskipun ada beberapa tarian yang dibawakan oleh orang yang lebih tua.Suarjaya menambahkan bahwa tarian-tarian tersebut memiliki unsur magis yang sangat tinggi. Para penari, yang sebagian besar adalah anak muda, telah terlatih dan mampu mengikuti irama gamelan dengan baik.Wakil Klian Adat Cempaga, Jro Nyoman Suteja, menyatakan bahwa pementasan tarian sakral telah dilakukan secara turun-temurun dan tetap dilestarikan hingga hari ini. Menurutnya, pementasan tarian ini bertujuan untuk memperingati kemenangan Darma melawan Adarma. Tarian sakral ini semakin digemari oleh anak muda Cempaga, yang dengan semangat ikut menari dan mendapat dukungan kuat dari orang tua mereka.Selain itu, gamelan yang digunakan dalam pementasan juga dianggap sakral dan hanya boleh dimainkan di pura desa, tidak boleh dibawa keluar desa.sumber : link