TES
Dikutip dari tigawasa-buleleng.desa.id, Desa Tigawasa termasuk desa purba atau Bali Aga karena memiliki sejumlah benda purbakala.Dianggap sebagai desa purba lantaran di sana terdapat barang bersejarah, salah satunya kapak batu. Kapak batu tersebut ada yang berwarna putih dan hitam. Masyarakat desa menyebutnya sebagai gigin kilap dan dianggap sebagai batu bertuah. Bisanya, gigin kilap ini direndam dan air rendamannya disiram pada tanaman padi agar tidak diserang hama.Adapun barang lainnya yang menjadi bukti sejarah desa yaitu adanya peti mati dari batu cadas. Bahkan ada pula gamelan dari perunggu dan beberapa benda sakral.
Sejarah dan Makna: Pura ini merupakan pusat kegiatan keagamaan dan spiritual di Desa Tigawasa. Pura Desa Adat Tigawasa memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Pura ini digunakan untuk berbagai upacara adat dan ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh penduduk desa.Arsitektur dan Tata Letak: Arsitektur Pura Desa Adat Tigawasa mencerminkan gaya tradisional Bali dengan ornamen-ornamen khas yang penuh dengan simbolisme. Pura ini terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing memiliki fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, seperti Pelinggih (tempat pemujaan), Bale (bangunan untuk pertemuan atau upacara), dan halaman pura yang luas.Ritual dan Upacara: Di Pura Desa Adat Tigawasa, berbagai upacara keagamaan Hindu Bali dilaksanakan secara rutin. Upacara-upacara seperti odalan, Galungan, Kuningan, dan upacara-upacara lainnya menjadi momen penting bagi warga desa untuk berkumpul dan berdoa bersama.Peran Sosial dan Budaya: Pura ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya. Di sini, masyarakat dapat melakukan pertemuan adat, diskusi mengenai masalah desa, serta kegiatan budaya lainnya yang memperkuat ikatan komunitas.
Tari Lawang salah satu tarian sacral yang ada di desa Tigawasa Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Tarian ini tidak dapat ditarikan oleh sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah terpilih dapat menarikan tarian ini. Mereka yang terpilih disebut Juru Lawang. Merekalah yang mengampu tugas untuk menari.Biasanya tari Lawang akan dibawakan oleh warga dadia yang mengampu saat Saba Desa. Di Desa Tigawasa sendiri terdapat lima dadia yang mendapat tugas menarikan tarian sakral itu. Kelima dadia itu disebut Panca Datu. Dalam Panca Datu tersebut terdapat Juru Lawang yang bertugas menari Lawang, Juru Gambuh yang bertugas menari baris, Juru Sudamala yang bertugas membuat tirta sudamala, Juru Pasek untuk masekin dan Juru Gemblung sebagai pengiring atau tukang tabuh.
Loloh cemcem adalah minuman tradisional khas dari Bali, termasuk Desa Penglipuran. Berikut deskripsi singkatnya:**Loloh Cemcem**: Loloh cemcem adalah minuman herbal tradisional Bali yang terbuat dari daun cemcem (nama ilmiahnya Saurauia vulcani Korth). Daun cemcem ini direbus bersama dengan bahan-bahan lain seperti jahe, serai, dan rempah-rempah lainnya. Minuman ini dikenal memiliki rasa segar dengan sentuhan herbal yang unik, sering kali disajikan dingin sebagai minuman penyegar.Loloh cemcem biasanya disajikan dalam acara adat atau sebagai minuman tradisional sehari-hari di Desa Penglipuran dan daerah-daerah lain di Bali.
Tenun Gringsing adalah kain tenun tradisional yang berasal dari Desa Tenganan, Bali. Kain ini terkenal karena motifnya yang unik dan kompleks, yang terbuat dari teknik tenun ikat double ikat yang sangat rumit. Motif Gringsing biasanya berbentuk geometris dengan warna-warna kontras yang menarik. Proses pembuatannya sangatlah rumit dan memakan waktu lama, melibatkan banyak tahap mulai dari mempersiapkan benang hingga proses pewarnaan dan tenun. Kain tenun Gringsing bukan hanya sekadar kain, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang dalam bagi masyarakat Tenganan.
Desa Tigawasa, yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal karena memiliki sembilan pura yang unik. Pura-pura ini tidak memiliki bangunan fisik seperti halnya pura tradisional di Bali, melainkan berupa hutan yang disucikan dan sakral. Masing-masing pura hanya ditandai dengan plapah, yaitu sepotong bambu dengan penyangga tempat sesajen yang diletakkan di pohon. Di sekitar area pura, terdapat pancuran dengan air jernih yang digunakan warga untuk mendapatkan tirta atau air suci dalam persembahyangan.Desa Tigawasa memiliki aturan adat yang ketat untuk menjaga kesucian pura hutan ini. Larangan-larangan termasuk tidak boleh membuang limbah ke area pura, seperti air limbah domestik atau air kamar mandi. Warga juga diwajibkan untuk menghormati aturan-aturan adat lainnya, seperti larangan memotong pohon di sekitar pura atau melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan.Pura-pura ini dikenal dengan nama-nama seperti Pura Bolong, Pura Pendem, dan Pura Pengubengan, tersebar mengikuti arah mata angin di ujung-ujung desa dekat perbatasan. Warga Desa Tigawasa meyakini bahwa pura-pura ini dilindungi oleh kekuatan spiritual yang tidak terlihat secara kasat mata, dan melanggar aturan-aturan tersebut berarti menghadapi konsekuensi yang serius.Upaya pelestarian lingkungan juga sangat dijunjung tinggi di desa ini, dengan penekanan pada konservasi hutan bambu dan keberagaman tanaman. Tanaman seperti bambu buluh, beringin, dan aren tidak hanya menjaga keberagaman ekosistem tetapi juga memainkan peran penting dalam mempertahankan pasokan air di desa ini. Hal ini menjadi sangat krusial mengingat keterbatasan akses air bersih di desa dengan topografi yang sulit.Desa Tigawasa tidak hanya menawarkan keindahan alam yang luar biasa tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal dalam menjaga lingkungan alam dan tradisi adat yang kaya.sumber : link
Perang Pandan di Desa Tenganan adalah sebuah ritual tradisional yang unik dan penuh makna, yang juga dikenal dengan nama Mekaré-karé. Berikut adalah deskripsi detailnya:Deskripsi Perang Pandan (Mekaré-karé)Latar Belakang Ritual:Mekaré-karé merupakan bagian integral dari rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang diadakan setiap tahunnya di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Upacara ini merupakan momen puncak yang dipenuhi dengan kegiatan spiritual dan keagamaan.Waktu Pelaksanaan:Ritual Mekaré-karé berlangsung selama sebulan penuh, biasanya pada bulan Juni. Selama periode ini, desa dipenuhi dengan kegiatan persiapan dan pelaksanaan upacara yang melibatkan seluruh masyarakat.Peserta:Acara ini diikuti oleh para laki-laki dari segala usia, dari anak-anak hingga orang tua. Mereka yang berpartisipasi mengenakan pakaian adat dan bersiap untuk bertempur menggunakan senjata tradisional berupa daun pandan yang dipotong-potong.Senjata dan Perlengkapan:Daun Pandan: Senjata utama dalam Mekaré-karé adalah daun pandan yang dipotong sepanjang sekitar 30 cm. Daun ini memiliki duri-duri kecil yang dapat menyebabkan luka ringan pada kulit.Tameng: Setiap peserta dilengkapi dengan tameng tradisional yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya, digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan.Prosesi Pertempuran:Para peserta saling berhadapan dalam arena yang telah disiapkan di desa. Mereka saling menyerang dan bertahan dengan menggunakan daun pandan sebagai simbol perlawanan dan keberanian.Pertempuran diiringi dengan suara tabuhan gamelan selonding khas Desa Tenganan, menciptakan suasana yang khas dan menguatkan semangat para peserta.Makna dan Filosofi:Mekaré-karé bukan sekadar pertunjukan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam. Pertempuran dengan daun pandan melambangkan pengorbanan dan kekuatan, sementara prosesi ini juga dianggap sebagai upaya untuk membersihkan diri dari energi negatif dan memperkuat solidaritas komunitas.Setiap luka yang dihasilkan dari pertempuran dipercaya dapat disembuhkan dengan ramuan tradisional yang terbuat dari tanaman obat-obatan lokal.Penutupan dan Perayaan:Setelah pertempuran selesai, acara ditutup dengan upacara persembahan dan doa kepada leluhur. Masyarakat Desa Tenganan kemudian merayakan kesuksesan dan kebersamaan dengan makan bersama dan kegiatan sosial lainnya.Perang Pandan atau Mekaré-karé bukan hanya sebuah ritual perang fisik, tetapi juga simbol dari kekompakan dan kekuatan spiritual masyarakat Desa Tenganan dalam menjaga dan memperkuat warisan budaya mereka. Ritual ini menunjukkan kegigihan mereka dalam mempertahankan tradisi yang kaya akan makna dan nilai-nilai budaya.
Karangasem - Desa Tenganan Pegringsingan di Karangasem, Bali, menawarkan wisata budaya yang menakjubkan. Salah satu daya tarik utamanya adalah ayunan jantra.Ayunan jantra adalah bukti nyata bahwa Desa Tenganan tetap menjaga tradisi dan budaya warisan leluhur. Selain unik, ayunan jantra juga memiliki filosofi mendalam.Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan, I Putu Suarjana, menjelaskan bahwa ayunan jantra melambangkan perputaran bumi, kadang berada di atas, kadang di bawah."Kami memiliki ayunan yang disebut ayunan jantra, yang sudah ada sebelum pariwisata berkembang. Ini adalah media pembelajaran kami, bahwa ayunan jantra adalah lambang perputaran bumi," ujar I Putu Suarjana.Desa Tenganan memiliki lima ayunan yang dipasang selama 18 hari saat rangkaian upacara Ngusaba Sambah. Ayunan ini terdiri dari empat hingga delapan tempat duduk yang diapit oleh tiang, dengan posisi di atas, bawah, depan, dan belakang.Ayunan jantra hanya boleh dinaiki oleh remaja putri dan diayunkan secara manual oleh remaja putra."Remaja putra bertugas mengayun, sementara remaja putri menaiki ayunan. Mengapa putri? Karena mereka simbol keindahan dan kecantikan. Remaja putra yang mengayun menunjukkan bahwa tanggung jawab ada di pundak mereka. Orang tua tidak boleh mengayun," kata I Putu Suarjana.Saat bermain ayunan, remaja putra dan putri mengenakan pakaian tradisional khas Desa Tenganan, yaitu kain gringsing. Setiap ayunan diayun oleh empat remaja putra, dua di bawah dan dua di tengah.Ayunan jantra hanya dimainkan pada waktu tertentu, sehingga bisa dibongkar dan dipasang kembali sesuai jadwal. Ayunan ini terbuat dari kayu cempaka.Dengan ukurannya yang sangat besar, ayunan jantra sering menarik perhatian wisatawan. Traveler yang ingin melihat ayunan raksasa ini dapat berkunjung ke Desa Tenganan pada bulan Juni, saat upacara Ngusaba Sambah berlangsung.
Rumah adat khas Tenganan di Bali, yang dikenal sebagai "Bale", memiliki ciri khas yang mencerminkan budaya dan tradisi masyarakat Bali Aga, penduduk asli desa tersebut. Berikut adalah deskripsi detailnya:Struktur dan ArsitekturBahan Bangunan:Rumah-rumah adat Tenganan umumnya dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, batu, dan alang-alang untuk atapnya.Batu digunakan untuk fondasi dan dinding, memberikan kestabilan dan ketahanan terhadap gempa.Desain Atap:Atap rumah adat Tenganan berbentuk pelana dengan sudut kemiringan yang cukup tajam. Atap ini biasanya terbuat dari alang-alang yang ditata rapat untuk melindungi dari hujan dan panas.Tata Ruang:Rumah adat Tenganan terdiri dari beberapa bangunan dalam satu kompleks. Setiap kompleks biasanya memiliki bangunan utama (bale dauh) dan bangunan tambahan seperti dapur (paon) dan lumbung padi (jelih).Bangunan utama biasanya digunakan untuk tempat tinggal dan beribadah, sementara bangunan lainnya digunakan untuk kegiatan sehari-hari dan penyimpanan.Fungsi dan FilosofiFungsi Sosial:Rumah adat Tenganan berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus tempat berkumpul keluarga besar. Struktur rumah yang terdiri dari beberapa bangunan mencerminkan sistem kekerabatan dan gotong royong masyarakat Tenganan.Setiap rumah adat juga memiliki pekarangan yang luas, digunakan untuk berbagai kegiatan sosial dan ritual.Filosofi dan Nilai Budaya:Desain rumah adat Tenganan mencerminkan nilai-nilai tradisional dan filosofi hidup masyarakat Bali Aga, yang sangat menghormati alam dan nenek moyang.Posisi dan orientasi bangunan dalam kompleks rumah adat juga diatur berdasarkan prinsip-prinsip kosmologi Bali, yang mencerminkan keseimbangan antara dunia atas (swah), dunia tengah (bwah), dan dunia bawah (bhur).Ornamen dan DekorasiUkiran dan Hiasan:Rumah adat Tenganan sering dihiasi dengan ukiran-ukiran khas yang memiliki makna simbolis, seperti motif flora dan fauna.Ukiran ini biasanya ditemukan di pintu, jendela, dan tiang-tiang rumah.Penggunaan Warna:Warna-warna alami dari bahan bangunan seperti kayu dan batu lebih dominan, memberikan kesan harmonis dan menyatu dengan alam sekitar.KeunikanKeterbukaan dan Keberlanjutan:Rumah adat Tenganan dirancang dengan ventilasi yang baik, sehingga sirkulasi udara di dalam rumah cukup lancar. Ini menciptakan lingkungan yang sejuk dan nyaman meskipun tanpa menggunakan alat-alat modern.Konservasi Budaya:Hingga saat ini, masyarakat Tenganan masih mempertahankan bentuk dan tata cara pembangunan rumah adat mereka sesuai dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Ini menjadikan rumah adat Tenganan sebagai salah satu warisan budaya yang sangat berharga.Rumah adat Tenganan tidak hanya mencerminkan arsitektur tradisional yang unik, tetapi juga menjadi simbol identitas dan kelestarian budaya masyarakat Bali Aga.
Pura Puseh Agung Desa Cempaga adalah sebuah pura penting yang terletak di Desa Cempaga, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Pura ini merupakan salah satu pura utama dalam tradisi Bali Aga, yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi bagi masyarakat setempat.Pura Puseh Agung dikenal sebagai tempat suci untuk memuja leluhur dan dewa-dewa desa, serta menjadi pusat kegiatan keagamaan dan adat bagi warga Desa Cempaga. Arsitektur pura ini mencerminkan keunikan budaya Bali Aga dengan struktur yang sederhana namun sarat makna, seringkali dihiasi oleh ukiran-ukiran tradisional dan patung-patung yang merepresentasikan dewa-dewi Hindu.Setiap enam bulan sekali, Pura Puseh Agung menjadi pusat pelaksanaan upacara keagamaan besar yang disebut Sabo Muayon. Selama upacara ini, berbagai tarian sakral seperti Tari Jangkang dan Tari Rejang dipentaskan oleh anak-anak muda desa, menambah suasana sakral dan magis di area pura.Sebagai tempat yang sakral, Pura Puseh Agung tidak hanya menjadi tempat bersembahyang, tetapi juga pusat pelestarian budaya dan tradisi kuno Desa Cempaga. Warga desa dengan penuh semangat menjaga dan merawat pura ini, memastikan bahwa nilai-nilai spiritual dan kebudayaan mereka terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi.
Desa Cempaga, terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, adalah salah satu desa Bali Aga yang mempertahankan tradisi dan budaya kuno. Setiap enam bulan sekali, desa ini menggelar upacara keagamaan besar yang dikenal sebagai Sabo Muayon, menampilkan serangkaian tarian sakral seperti Tari Jangkang, Tari Baris, dan berbagai tarian Rejang yang diperankan oleh anak-anak muda desa.Upacara ini berlangsung selama tiga hari, dengan puncak acara pada hari kedua, menarik ribuan warga dan pengunjung dari desa-desa sekitarnya. Tarian-tarian tersebut memiliki unsur magis dan melibatkan gerakan yang kompleks, mengikuti irama gamelan yang hanya dimainkan di pura desa dan tidak boleh dibawa keluar desa. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun, bertujuan untuk memperingati kemenangan Darma melawan Adarma dan memperkuat ikatan spiritual dan sosial di antara warga desa.Pementasan itu tujuan adalah memperingati hari kemenangan Darma melawan Adarma. Tarian sakral sekarang semakin di gemari oleh anak muda cempaga dan mereka bersemangat ikut menari dan mementaskan serta mendapat dukungan yang sangat kuat dari orang tua mereka yang ikut mengantar anak-anak menari. Dengan niat ngayah dan tanpa di bayar untuk menarikan tarian sakral Desa Bali Aga Cempaga
Desa Penglipuran, Bali - Ekowisata di Desa Penglipuran tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memesona tetapi juga memberikan pengalaman mendalam tentang kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan. Terletak di Kabupaten Bangli, desa ini dikenal sebagai salah satu destinasi terbersih dan terjaga di dunia, menarik wisatawan yang mencari pengalaman wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.Ekowisata di Penglipuran memungkinkan pengunjung untuk menikmati keindahan alam Bali yang masih alami. Kebun bambu yang luas dan hutan hijau menjadi latar belakang yang sempurna untuk trekking dan aktivitas luar ruangan lainnya. Penglipuran juga menawarkan pemandangan sawah yang hijau dan udara pegunungan yang segar, menciptakan suasana yang tenang dan menyejukkan.Selain itu, masyarakat Penglipuran sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan. Praktik kebersihan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Pengunjung tidak hanya diajak untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga untuk belajar tentang upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat setempat.Acara-acara ekowisata di Penglipuran sering kali melibatkan partisipasi aktif dari pengunjung. Ini termasuk kegiatan seperti penanaman pohon, pelatihan daur ulang, dan kampanye lingkungan lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan bagi masa depan bumi.Dengan menjadikan ekowisata sebagai salah satu fokus utama, Desa Penglipuran tidak hanya mampu menjaga keberlanjutan lingkungan tetapi juga mengembangkan ekonomi lokal melalui pariwisata yang bertanggung jawab. Kunjungan ke Penglipuran bukan hanya sekadar liburan biasa, tetapi merupakan kesempatan untuk merasakan keindahan alam dan kearifan lokal Bali dalam satu paket pengalaman yang tak terlupakan.
Desa Penglipuran di Bali tidak hanya terkenal dengan kebersihannya yang menakjubkan, tetapi juga dengan rumah-rumah khasnya yang memikat hati setiap pengunjung. Arsitektur tradisional Bali yang terlihat di setiap sudut desa mencerminkan keindahan dan kearifan lokal yang telah terjaga selama berabad-abad.Setiap rumah di Penglipuran didesain dengan ciri khas arsitektur Bali yang klasik: atap jerami bertumpuk, dinding bata merah, dan pintu-pintu yang dihiasi ukiran tradisional. Bangunan-bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi penduduk desa, tetapi juga sebagai penjaga sejarah dan identitas budaya yang tak ternilai.Rumah-rumah di Penglipuran didirikan sesuai dengan filosofi Tri Mandala, yang membagi rumah menjadi tiga bagian utama: bagian depan (nista mandala) untuk kegiatan sehari-hari, bagian tengah (madya mandala) untuk tempat tinggal, dan bagian belakang (utama mandala) yang diperuntukkan untuk upacara adat dan peribadatan.Selain struktur fisiknya yang mempesona, rumah-rumah di Penglipuran juga menyajikan tata ruang yang simetris dan terorganisir dengan baik, menciptakan kesan harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan masyarakat dengan alam sekitarnya tetapi juga memberikan kesan kedamaian dan keanggunan bagi pengunjung yang datang.Kunjungan ke Desa Penglipuran tidak hanya akan memuaskan rasa ingin tahu akan keindahan arsitektur tradisional Bali, tetapi juga memberikan pengalaman mendalam tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang masih sangat menghormati dan mempertahankan nilai-nilai budaya mereka. Rumah-rumah khas ini menjadi saksi bisu dari masa lalu yang terus hidup dan berkembang dalam era modern ini, mengajarkan kita akan pentingnya pelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang.
Pura Desa Bale Agung adalah salah satu pura penting yang terletak di Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali. Pura ini merupakan pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat setempat yang mayoritas menganut agama Hindu. Pura Desa Bale Agung memiliki peran sentral dalam menjaga kelestarian adat dan tradisi desa, serta menjadi simbol kebersamaan dan harmoni dalam kehidupan sehari-hari.Secara arsitektural, Pura Desa Bale Agung memiliki struktur yang khas dengan beberapa pelinggih (bangunan suci) yang didedikasikan untuk para dewa dan leluhur desa. Pura ini juga memiliki bale (bangunan terbuka) yang digunakan untuk berbagai kegiatan upacara dan pertemuan desa. Salah satu aspek menarik dari pura ini adalah ornamen dan ukiran tradisional Bali yang menghiasi setiap bangunan, mencerminkan keindahan seni dan budaya Bali.Pura Desa Bale Agung menjadi pusat dari berbagai upacara adat yang digelar secara rutin, seperti odalan (hari ulang tahun pura), galungan, kuningan, dan upacara lainnya yang melibatkan seluruh warga desa. Pada setiap upacara, warga desa berkumpul untuk bersembahyang, mempersembahkan sesajen, dan melakukan berbagai ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan spiritual masyarakat, tetapi juga mempererat rasa persaudaraan dan gotong royong.Desa Adat Sidetapa sendiri dikenal dengan masyarakatnya yang masih sangat menjaga dan melestarikan adat dan tradisi leluhur. Kehidupan sehari-hari di desa ini dipenuhi dengan nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan keharmonisan dengan alam. Hal ini tercermin dalam setiap kegiatan di Pura Desa Bale Agung, di mana warga desa bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan pura serta aktif berpartisipasi dalam setiap upacara yang diadakan.Pura Desa Bale Agung bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kebudayaan dan kehidupan sosial bagi masyarakat Desa Adat Sidetapa. Keberadaannya menjadi simbol identitas dan kebanggaan bagi warga desa, serta menarik minat wisatawan yang ingin menyaksikan dan merasakan langsung kekayaan budaya Bali yang autentik.
Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas adalah sebuah pura yang terletak di Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali. Pura ini merupakan salah satu tempat ibadah penting bagi masyarakat setempat yang menganut agama Hindu. Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas memiliki keunikan tersendiri dalam arsitektur dan sejarahnya yang mencerminkan budaya dan tradisi Bali yang kaya.Pura ini dibangun di tengah-tengah lingkungan alam yang indah, dikelilingi oleh pepohonan yang rindang dan suasana yang tenang. Nama "Taman Kayuan Mas" sendiri mengacu pada kebun atau taman kayu yang subur, mencerminkan keselarasan antara manusia dan alam yang menjadi filosofi hidup masyarakat Bali.Secara struktural, Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas terdiri dari beberapa pelinggih (bangunan suci) yang didedikasikan untuk berbagai dewa dan leluhur. Pura ini juga memiliki beberapa bale (bangunan terbuka) yang digunakan untuk berbagai kegiatan ritual dan upacara adat. Salah satu momen penting yang dirayakan di pura ini adalah odalan atau hari ulang tahun pura, yang dirayakan dengan meriah oleh seluruh warga desa.Desa Adat Sidetapa, tempat pura ini berada, dikenal dengan adat dan tradisi yang masih kuat dijaga. Masyarakat di desa ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan keharmonisan. Hal ini tercermin dalam setiap kegiatan di pura, di mana warga desa bersama-sama melakukan persiapan dan pelaksanaan upacara dengan penuh semangat dan rasa kebersamaan.Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat Desa Adat Sidetapa. Keberadaannya menjadi simbol penting dari identitas dan kebanggaan masyarakat setempat, serta menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya Bali yang autentik.
Desa Sidetapa, terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, adalah sebuah desa tua yang berada di ketinggian sekitar 500-600 meter di atas permukaan laut. Desa ini masih mampu mempertahankan berbagai warisan adat dan budayanya di tengah arus modernisasi.Saat berkunjung ke desa ini, Anda mungkin akan melihat anak-anak dan remaja berlatih Tari Rejang. Latihan ini rutin dilakukan oleh Pasraman Desa Pekraman Sidetapa untuk menjaga kelestarian warisan adat dan budaya desa.Menurut Ketut Arka, seorang ahli tabuh dan mantan Kelian Desa Pekraman Sidetapa, terdapat 14 jenis Tari Rejang khas Desa Sidetapa, masing-masing memiliki makna yang saling terkait. Ke-14 tarian tersebut adalah Rejang Penundun, Rejang Papag Rurung, Rejang Ginada, Rejang Tanding, Rejang Lilit, Rejang Embat-embatan Penyalin, Rejang Cirig Kuri, Rejang Lilit Nyali, Rejang Pereret, Rejang Embung Kelor, Rejang Ginangring, Rejang Renteng, Rejang Legong Manis, dan Rejang Legong Bantes.Tari Rejang ini biasanya ditampilkan saat piodalan di desa, baik pada Hari Raya Galungan maupun piodalan di pura-pura desa. Ketut Arka menekankan pentingnya menarikan tarian ini untuk menjaga warisan adat dan budaya leluhur. Namun, remaja yang sedang haid tidak diperbolehkan menarikan tarian ini.Desa Pekraman Sidetapa juga merekrut anak-anak dan remaja untuk berlatih tarian Rejang dan tarian khas lainnya, seperti Tari Jangkang, Tari Menggung, Tari Ngaleganti, Tari Ngabwang, Tari Pendet, dan Tari Baris. Tujuannya adalah melestarikan warisan adat dan budaya desa Bali Aga. Setiap gerakan tarian memiliki makna yang saling terkait, misalnya, Tari Rejang Penundun bertujuan membangunkan anak-anak untuk bersiap menarikan tarian sakral, sedangkan Tari Rejang Papag Rurung untuk menjemput para penari.Nyoman Tarma, Penyarikan Desa Pekraman Sidetapa, menambahkan bahwa beberapa tarian seperti Tari Rejang Penundung hingga Tari Rejang Ginangring dipentaskan oleh anak-anak atau remaja, sedangkan tiga tarian lainnya, yaitu Tari Rejang Renteng, Rejang Legong Manis, dan Rejang Legong Bantes, ditarikan oleh orang dewasa. Jumlah penari dewasa biasanya tujuh orang, melambangkan dedari atau bidadari.Desa Sidetapa juga memiliki tetabuhan khas seperti Palian Taksu dan Tabuh Taksu, yang sangat sakral dan biasanya digunakan untuk mengiringi penari yang kerauhan. Selain itu, desa ini juga memiliki tarian lainnya seperti Tarian Jangkang, Tarian Menggung, Tarian Ngaleganti, Tarian Ngabwang, Tari Pendet, dan Tari Baris.Pihak desa berusaha mengajarkan tarian-tarian ini kepada anak-anak dan remaja sejak dini untuk mencegah perkawinan usia dini yang masih sering terjadi. Dengan begitu, ketika mereka dewasa, mereka sudah memahami dan mencintai tarian khas Desa Sidetapa, sehingga mereka lebih memilih untuk melestarikan adat dan budaya desa.Selain tarian, upacara adat di Desa Sidetapa juga sangat penting. Salah satu upacara besar adalah Upacara Beriang Agung, yang diadakan setiap tiga tahun sekali di Pura Desa. Tujuannya adalah untuk "ngerebeg nyiatin satru" atau menyingkirkan musuh berupa buta kala. Upacara ini melibatkan perburuan kijang di hutan belantara.Ada juga Upacara Sanghyang Gandrung, sebuah upacara pecaruan yang berlangsung selama 42 hari. Upacara ini ditandai dengan tarian simbolis, di mana Sanghyang ditarikan oleh dua wanita lajang sebagai simbol dedari, sedangkan Gandrung ditarikan oleh laki-laki yang berpakaian wanita sebagai simbol genderuwo. Upacara ini juga diadakan setiap tiga tahun sekali.Seluruh warga desa terlibat dalam upacara pecaruan ini, yang dilakukan di masing-masing rumah atau pintu gerbang rumah. Pada penutupan upacara Sanghyang Gandrung, diadakan puncak acara berupa "mesuang tegen-tegenan" seperti pale bungkah dan pale gantung.
Wilayah Bali Utara terkenal dengan pesona alamnya, termasuk beberapa air terjun yang menakjubkan. Salah satu air terjun yang ada di sini adalah Air Terjun Mampah, yang terletak di Desa Sidetapa, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Meskipun keberadaan air terjun ini belum begitu dikenal seperti Air Terjun Gitgit dan Sekumpul, keindahannya tak kalah memukau.Jika Anda melintas dan berkunjung ke desa Baliaga di Bali Utara, yang merupakan salah satu destinasi desa tua di Bali, cobalah mampir ke Desa Sidetapa. Di sana, terdapat Air Terjun Mampah yang jarang didatangi wisatawan. Air terjun ini dapat dijangkau dengan berkendara sepeda motor, sekitar dua kilometer dari pusat Desa Sidetapa, dengan waktu tempuh sekitar lima menit.Keberadaan Air Terjun Mampah mungkin masih asing bagi banyak orang, namun keindahan yang ditawarkannya tidak kalah dengan air terjun Gitgit maupun Sekumpul. Sebelum mencapai air terjun, pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang masih asri, yang membuat perjalanan menuju air terjun ini terasa menyenangkan.Di tengah perjalanan, suara gemercik dan derasnya air terjun sudah terdengar, dan sesampainya di air terjun, Anda akan disambut dengan dinginnya air dan sumber mata air jernih yang menyegarkan. Suasana air terjun yang tenang dan alami menjadikannya tempat yang indah untuk dinikmati. Selain untuk wisatawan, air terjun ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk kehidupan sehari-hari seperti mandi dan minum.Selain air terjun, Desa Sidetapa juga menawarkan pemandangan yang khas dengan suasana pedesaan. Mayoritas penduduknya adalah pengrajin bambu, menjadikannya pemandangan yang unik dan layak dikunjungi. Wisatawan hanya perlu menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari Kota Singaraja untuk mencapai Desa Sidetapa.Kurangnya informasi dan sarana prasarana penunjang wisata membuat air terjun ini belum banyak diketahui orang. Diharapkan ke depannya Air Terjun Mampah dapat dibangun dan dikembangkan lebih lanjut, sehingga pariwisata di daerah ini dapat merata.sumber : link
Cengkeh adalah salah satu rempah yang sangat identik dengan Indonesia. Dengan aroma dan khasiatnya yang khas, tanaman ini selalu menarik perhatian. Hal ini juga berlaku di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Selain dikenal sebagai desa penghasil anyaman bambu, penduduk di sini juga memilih berinvestasi dalam budidaya cengkeh.Meskipun keseharian masyarakat Desa Sidetapa adalah sebagai pengrajin anyaman bambu, ketika musim cengkeh tiba, mereka lebih memilih untuk bertani cengkeh. Selain memiliki nilai jual tinggi, cengkeh juga telah banyak mengubah kehidupan masyarakat setempat. Saat panen tiba, seluruh penduduk, dari dewasa hingga anak-anak, bersemangat membantu para petani cengkeh.Alasan mereka bervariasi; selain mendapatkan upah, panen cengkeh di Desa Sidetapa jarang terjadi dan berlangsung cukup lama, tergantung pada kondisi cuaca. Pohon cengkeh baru bisa dipanen setelah sekitar lima tahun, dengan masa panen yang berlangsung antara enam bulan hingga satu tahun. Proses panen dimulai dengan memetik cengkeh dari pohonnya, kemudian dikupas dan dipisahkan dari daunnya, sebelum akhirnya dijemur selama beberapa hari hingga kering.Cengkeh di Desa Sidetapa dikelola secara pribadi oleh masyarakat setempat, dengan pemasaran dilakukan di sekitar desa sebelum dikirim ke Singaraja. Keuntungan yang diperoleh para petani bervariasi, mulai dari lima juta hingga lebih dari lima belas juta rupiah per panen. Bisnis cengkeh ini sangat layak untuk dilestarikan karena selain meningkatkan perekonomian, pohon cengkeh juga membantu mencegah tanah longsor dan membuat lingkungan lebih hijau. Cengkeh, dengan sejarah panjangnya sebagai komoditas yang diperebutkan banyak bangsa, tetap menjadi tanaman penting dengan berbagai manfaat ekonomis yang signifikan.sumber : link