Acara Desa Adat

Jumlah : 7 Acara
gambar acara

01 Maret 2024

Not Upcoming
Meboros Kidang

Tradisi menarik lainnya dari desa ini yaitu Meboros Kidang. Meboros Kidang merupakan kegiatan berburu rusa atau kijang untuk pecaruan menyambut hari Nyepi Desa.Makna dan Tujuan:Meboros Kidang dilakukan sebagai bagian dari ritual adat dan keagamaan di Desa Tigawasa.Tradisi ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam dan spiritualitas masyarakat.Selain itu, tradisi ini juga mempererat hubungan sosial di antara warga desa.Pelaksanaan:Tradisi ini biasanya dilakukan secara berkala pada waktu-waktu tertentu yang telah ditentukan oleh pemangku adat.Berburu dilakukan dengan cara-cara tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.Masyarakat desa bersama-sama berpartisipasi dalam kegiatan ini, menunjukkan solidaritas dan kebersamaan mereka.Nilai Budaya:Meboros Kidang merupakan warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.Tradisi ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam di Desa Tigawasa.Penghormatan terhadap alam dan binatang adalah salah satu nilai utama yang dijunjung tinggi dalam tradisi ini.Peran dalam Pariwisata:Meboros Kidang dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang unik bagi para wisatawan yang berkunjung ke Buleleng.Wisatawan dapat menyaksikan langsung pelaksanaan tradisi ini dan belajar tentang nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.Promosi tradisi ini dapat membantu meningkatkan kunjungan wisata dan perekonomian masyarakat desa.

gambar acara

11 Juni 2023

Not Upcoming
Tradisi Perang Pandan

Perang Pandan di Desa Tenganan adalah sebuah ritual tradisional yang unik dan penuh makna, yang juga dikenal dengan nama Mekaré-karé. Berikut adalah deskripsi detailnya:Deskripsi Perang Pandan (Mekaré-karé)Latar Belakang Ritual:Mekaré-karé merupakan bagian integral dari rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang diadakan setiap tahunnya di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Upacara ini merupakan momen puncak yang dipenuhi dengan kegiatan spiritual dan keagamaan.Waktu Pelaksanaan:Ritual Mekaré-karé berlangsung selama sebulan penuh, biasanya pada bulan Juni. Selama periode ini, desa dipenuhi dengan kegiatan persiapan dan pelaksanaan upacara yang melibatkan seluruh masyarakat.Peserta:Acara ini diikuti oleh para laki-laki dari segala usia, dari anak-anak hingga orang tua. Mereka yang berpartisipasi mengenakan pakaian adat dan bersiap untuk bertempur menggunakan senjata tradisional berupa daun pandan yang dipotong-potong.Senjata dan Perlengkapan:Daun Pandan: Senjata utama dalam Mekaré-karé adalah daun pandan yang dipotong sepanjang sekitar 30 cm. Daun ini memiliki duri-duri kecil yang dapat menyebabkan luka ringan pada kulit.Tameng: Setiap peserta dilengkapi dengan tameng tradisional yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya, digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan.Prosesi Pertempuran:Para peserta saling berhadapan dalam arena yang telah disiapkan di desa. Mereka saling menyerang dan bertahan dengan menggunakan daun pandan sebagai simbol perlawanan dan keberanian.Pertempuran diiringi dengan suara tabuhan gamelan selonding khas Desa Tenganan, menciptakan suasana yang khas dan menguatkan semangat para peserta.Makna dan Filosofi:Mekaré-karé bukan sekadar pertunjukan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam. Pertempuran dengan daun pandan melambangkan pengorbanan dan kekuatan, sementara prosesi ini juga dianggap sebagai upaya untuk membersihkan diri dari energi negatif dan memperkuat solidaritas komunitas.Setiap luka yang dihasilkan dari pertempuran dipercaya dapat disembuhkan dengan ramuan tradisional yang terbuat dari tanaman obat-obatan lokal.Penutupan dan Perayaan:Setelah pertempuran selesai, acara ditutup dengan upacara persembahan dan doa kepada leluhur. Masyarakat Desa Tenganan kemudian merayakan kesuksesan dan kebersamaan dengan makan bersama dan kegiatan sosial lainnya.Perang Pandan atau Mekaré-karé bukan hanya sebuah ritual perang fisik, tetapi juga simbol dari kekompakan dan kekuatan spiritual masyarakat Desa Tenganan dalam menjaga dan memperkuat warisan budaya mereka. Ritual ini menunjukkan kegigihan mereka dalam mempertahankan tradisi yang kaya akan makna dan nilai-nilai budaya.

gambar acara

01 Maret 2020

Not Upcoming
Pemetasan Tarian Sakral

Ribuan warga adat Desa Cempaga berkumpul di halaman Pura Desa Cempaga. Desa Bali Aga ini, yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, memiliki tarian sakral yang unik dan berbeda dari desa lainnya di Bali.Desa Cempaga, salah satu desa tua di jantung Kabupaten Buleleng, merayakan upacara keagamaan pada Manis Langkir Kuningan, Minggu (1/3) pukul 08.00 WITA di Pura Desa. Beberapa tarian sakral yang dipentaskan termasuk Tari Jangkang, Tari Baris, Baris Jojor, Baris Dadap, Tari Pendet, dan berbagai jenis Tari Rejang seperti Rejang Beneh, Rejang Tuding Pelayon, Rejang Lilit Nyali, Rejang Sirig Buntas, Rejang Embung Kelor, Rejang Galuh, Rejang Pengecek Galuh, Rejang Dephe, Rejang Bungkol, Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Legong, dan Rejang Unda.Upacara ini berlangsung selama tiga hari, dengan puncaknya pada Senin (2/3). Selain warga adat Cempaga yang melakukan persembahyangan sambil mementaskan tarian sakral, warga adat dari Desa Tukad Mungga dan Anturan juga ikut menyaksikan rangkaian upacara ini. Ketiga desa tersebut memiliki sejarah adat yang erat dan saling menghormati leluhur masing-masing.Kepala Desa Cempaga, Putu Suarjaya, menjelaskan bahwa pementasan tarian sakral dilakukan setiap enam bulan sekali atau saat Sabo Muayon, sebuah upacara besar tahunan. Di Cempaga, sebagian besar tarian diperankan oleh anak-anak muda, meskipun ada beberapa tarian yang dibawakan oleh orang yang lebih tua.Suarjaya menambahkan bahwa tarian-tarian tersebut memiliki unsur magis yang sangat tinggi. Para penari, yang sebagian besar adalah anak muda, telah terlatih dan mampu mengikuti irama gamelan dengan baik.Wakil Klian Adat Cempaga, Jro Nyoman Suteja, menyatakan bahwa pementasan tarian sakral telah dilakukan secara turun-temurun dan tetap dilestarikan hingga hari ini. Menurutnya, pementasan tarian ini bertujuan untuk memperingati kemenangan Darma melawan Adarma. Tarian sakral ini semakin digemari oleh anak muda Cempaga, yang dengan semangat ikut menari dan mendapat dukungan kuat dari orang tua mereka.Selain itu, gamelan yang digunakan dalam pementasan juga dianggap sakral dan hanya boleh dimainkan di pura desa, tidak boleh dibawa keluar desa.sumber : link

gambar acara

04 Juli 2024

Not Upcoming
Penglipuran Village Festival XI

Desa Penglipuran, Bali - Penglipuran Village Festival XI kembali digelar dengan semangat merayakan kekayaan budaya dan tradisi Bali yang unik. Festival tahunan ini berlangsung selama beberapa hari, menarik ribuan wisatawan lokal dan internasional yang ingin merasakan keindahan dan keaslian budaya Bali.Penglipuran Village Festival XI menampilkan berbagai macam kegiatan budaya yang mencakup pertunjukan tari tradisional, pameran seni, dan lomba-lomba khas desa. Pengunjung disuguhkan dengan penampilan memukau dari para penari yang membawakan tarian Bali klasik seperti Legong, Barong, dan Kecak. Selain itu, festival ini juga menampilkan parade pakaian adat, yang memperlihatkan kekayaan tekstil dan busana tradisional Bali.Tidak hanya seni pertunjukan, Penglipuran Village Festival XI juga menjadi ajang pameran kerajinan tangan lokal. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan anyaman bambu, ukiran kayu, dan tenun ikat khas Bali. Produk-produk kerajinan ini juga tersedia untuk dibeli sebagai oleh-oleh khas yang otentik.Festival ini juga menonjolkan kuliner khas Bali yang lezat dan autentik. Pengunjung dapat menikmati berbagai hidangan tradisional seperti ayam betutu, lawar, dan sate lilit, yang disajikan dengan cita rasa lokal yang otentik. Selain itu, berbagai minuman tradisional seperti arak Bali dan jamu juga tersedia untuk dinikmati.Penglipuran Village Festival XI tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga sebuah upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya Bali kepada generasi muda dan dunia internasional. Melalui festival ini, Desa Penglipuran menunjukkan komitmennya dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian budaya, menjadikannya contoh nyata dari harmoni antara tradisi dan modernitas.Festival ini juga menawarkan berbagai kegiatan interaktif bagi pengunjung, seperti workshop tari Bali, kelas memasak, dan pameran foto sejarah Desa Penglipuran. Pengunjung dapat belajar langsung dari para ahli dan mendapatkan pengalaman mendalam tentang kehidupan dan tradisi masyarakat Bali.Penglipuran Village Festival XI menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya dapat dijaga dan dirayakan dengan cara yang inklusif dan menyenangkan. Dengan berbagai kegiatan yang menarik dan edukatif, festival ini tidak hanya memberikan hiburan tetapi juga memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang keindahan budaya Bali.

gambar acara

25 September 2024

Upcoming
Pertunjukan Tari Rejang

Tari Rejang adalah tarian sakral khas Bali yang ditarikan oleh perempuan sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Tarian ini terkenal di Desa Sidetapa, Buleleng, dan memiliki peran penting dalam upacara keagamaan desa.Lokasi dan PelaksanaanLokasi: Tari Rejang ditampilkan di pura-pura desa seperti Pura Desa Bale Agung. Latihan tari sering dilakukan di halaman sekolah atau balai desa.Waktu: Pertunjukan tari dilakukan pada saat piodalan (upacara keagamaan) dan Hari Raya Galungan serta Kuningan. Latihan rutin diadakan oleh komunitas desa.Penampilan dan MaknaPakaian dan Aksesoris: Penari mengenakan pakaian tradisional Bali yang terdiri dari kain kemben, selendang, dan hiasan kepala yang dihiasi bunga-bunga segar.Gerakan: Gerakannya lemah gemulai, melambangkan kesucian dan rasa hormat. Setiap gerakan dirancang untuk menyambut dan memuliakan kedatangan dewa-dewa yang dipercayai turun ke bumi selama upacara.Fungsi dan SignifikansiTari Rejang berfungsi sebagai media spiritual yang menghubungkan manusia dengan dunia ilahi. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bentuk doa dan pemujaan yang membantu menjaga keseimbangan spiritual dalam masyarakat desa. Melalui tarian ini, nilai-nilai budaya dan tradisi diwariskan dari generasi ke generasi, memperkuat identitas dan kebersamaan komunitas.Latihan dan Pelestarian: Anak-anak dan remaja di Desa Sidetapa diajarkan Tari Rejang sebagai upaya pelestarian budaya. Kegiatan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan tradisi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memberikan pengalaman mendalam bagi pengunjung.Dengan kekayaan budaya dan nilai-nilai spiritual yang terkandung, Tari Rejang menjadi salah satu aset penting dalam kebudayaan Bali, khususnya di Desa Sidetapa.

gambar acara

08 Februari 2022

Not Upcoming
Tradisi Maturan Duren

Desa Sidatapa di Kecamatan Banjar, Buleleng, dikenal dengan tradisi unik yang disebut "Maturan Duren," sebuah upacara adat yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas panen durian yang melimpah.Sebagai salah satu desa Bali Aga di Kabupaten Buleleng, Desa Sidatapa memiliki berbagai tradisi unik, termasuk upacara "Maturan Duren" yang menggabungkan adat dan ritual. Dalam tradisi ini, warga desa (krama ngarep) mempersembahkan tiga buah durian kepada leluhur, di mana satu buah durian akan dibawa pulang kembali dan dua buah lainnya disantap bersama setelah upacara selesai.Kelian Adat Desa Sidatapa, Putu Kasma, menjelaskan bahwa tradisi ini diwariskan secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen durian. "Persembahan ini dilakukan oleh krama ngarep tergantung panennya," ujarnya pada acara yang berlangsung Selasa, 8 Februari 2022.Kepala Desa Sidatapa, Ketut Budiasa, menyatakan bahwa pihaknya bersama tokoh adat berusaha untuk mengemas tradisi ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Sidatapa, sehingga tradisi ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. "Harapan kami, warisan yang bijaksana ini bisa dikenal oleh lebih banyak masyarakat di Buleleng," ungkapnya.Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dodi Sukma Oktiva Askara, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan rencana untuk memasukkan tradisi "Maturan Duren" dalam kalender acara wisata. "Kami sudah berdiskusi dan ke depan kami akan mencari konsep agar tradisi adat dan budaya ini tetap ajeg dan bisa dijadikan agenda acara," pungkasnya.sumber : link