Pura Desa Bale Agung.Pura Desa Bale Agung adalah salah satu pura penting yang terletak di Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali. Pura ini merupakan pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat setempat yang mayoritas menganut agama Hindu. Pura Desa Bale Agung memiliki peran sentral dalam menjaga kelestarian adat dan tradisi desa, serta menjadi simbol kebersamaan dan harmoni dalam kehidupan sehari-hari.Secara arsitektural, Pura Desa Bale Agung memiliki struktur yang khas dengan beberapa pelinggih (bangunan suci) yang didedikasikan untuk para dewa dan leluhur desa. Pura ini juga memiliki bale (bangunan terbuka) yang digunakan untuk berbagai kegiatan upacara dan pertemuan desa. Salah satu aspek menarik dari pura ini adalah ornamen dan ukiran tradisional Bali yang menghiasi setiap bangunan, mencerminkan keindahan seni dan budaya Bali.Pura Desa Bale Agung menjadi pusat dari berbagai upacara adat yang digelar secara rutin, seperti odalan (hari ulang tahun pura), galungan, kuningan, dan upacara lainnya yang melibatkan seluruh warga desa. Pada setiap upacara, warga desa berkumpul untuk bersembahyang, mempersembahkan sesajen, dan melakukan berbagai ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan spiritual masyarakat, tetapi juga mempererat rasa persaudaraan dan gotong royong.Desa Adat Sidetapa sendiri dikenal dengan masyarakatnya yang masih sangat menjaga dan melestarikan adat dan tradisi leluhur. Kehidupan sehari-hari di desa ini dipenuhi dengan nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan keharmonisan dengan alam. Hal ini tercermin dalam setiap kegiatan di Pura Desa Bale Agung, di mana warga desa bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan pura serta aktif berpartisipasi dalam setiap upacara yang diadakan.Pura Desa Bale Agung bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kebudayaan dan kehidupan sosial bagi masyarakat Desa Adat Sidetapa. Keberadaannya menjadi simbol identitas dan kebanggaan bagi warga desa, serta menarik minat wisatawan yang ingin menyaksikan dan merasakan langsung kekayaan budaya Bali yang autentik.
Pura Parahyangan Taman Kayuan MasPura Parahyangan Taman Kayuan Mas adalah sebuah pura yang terletak di Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali. Pura ini merupakan salah satu tempat ibadah penting bagi masyarakat setempat yang menganut agama Hindu. Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas memiliki keunikan tersendiri dalam arsitektur dan sejarahnya yang mencerminkan budaya dan tradisi Bali yang kaya.Pura ini dibangun di tengah-tengah lingkungan alam yang indah, dikelilingi oleh pepohonan yang rindang dan suasana yang tenang. Nama "Taman Kayuan Mas" sendiri mengacu pada kebun atau taman kayu yang subur, mencerminkan keselarasan antara manusia dan alam yang menjadi filosofi hidup masyarakat Bali.Secara struktural, Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas terdiri dari beberapa pelinggih (bangunan suci) yang didedikasikan untuk berbagai dewa dan leluhur. Pura ini juga memiliki beberapa bale (bangunan terbuka) yang digunakan untuk berbagai kegiatan ritual dan upacara adat. Salah satu momen penting yang dirayakan di pura ini adalah odalan atau hari ulang tahun pura, yang dirayakan dengan meriah oleh seluruh warga desa.Desa Adat Sidetapa, tempat pura ini berada, dikenal dengan adat dan tradisi yang masih kuat dijaga. Masyarakat di desa ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan keharmonisan. Hal ini tercermin dalam setiap kegiatan di pura, di mana warga desa bersama-sama melakukan persiapan dan pelaksanaan upacara dengan penuh semangat dan rasa kebersamaan.Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat Desa Adat Sidetapa. Keberadaannya menjadi simbol penting dari identitas dan kebanggaan masyarakat setempat, serta menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya Bali yang autentik.
Tari Rejang Khas SidetapaDesa Sidetapa, terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, adalah sebuah desa tua yang berada di ketinggian sekitar 500-600 meter di atas permukaan laut. Desa ini masih mampu mempertahankan berbagai warisan adat dan budayanya di tengah arus modernisasi.Saat berkunjung ke desa ini, Anda mungkin akan melihat anak-anak dan remaja berlatih Tari Rejang. Latihan ini rutin dilakukan oleh Pasraman Desa Pekraman Sidetapa untuk menjaga kelestarian warisan adat dan budaya desa.Menurut Ketut Arka, seorang ahli tabuh dan mantan Kelian Desa Pekraman Sidetapa, terdapat 14 jenis Tari Rejang khas Desa Sidetapa, masing-masing memiliki makna yang saling terkait. Ke-14 tarian tersebut adalah Rejang Penundun, Rejang Papag Rurung, Rejang Ginada, Rejang Tanding, Rejang Lilit, Rejang Embat-embatan Penyalin, Rejang Cirig Kuri, Rejang Lilit Nyali, Rejang Pereret, Rejang Embung Kelor, Rejang Ginangring, Rejang Renteng, Rejang Legong Manis, dan Rejang Legong Bantes.Tari Rejang ini biasanya ditampilkan saat piodalan di desa, baik pada Hari Raya Galungan maupun piodalan di pura-pura desa. Ketut Arka menekankan pentingnya menarikan tarian ini untuk menjaga warisan adat dan budaya leluhur. Namun, remaja yang sedang haid tidak diperbolehkan menarikan tarian ini.Desa Pekraman Sidetapa juga merekrut anak-anak dan remaja untuk berlatih tarian Rejang dan tarian khas lainnya, seperti Tari Jangkang, Tari Menggung, Tari Ngaleganti, Tari Ngabwang, Tari Pendet, dan Tari Baris. Tujuannya adalah melestarikan warisan adat dan budaya desa Bali Aga. Setiap gerakan tarian memiliki makna yang saling terkait, misalnya, Tari Rejang Penundun bertujuan membangunkan anak-anak untuk bersiap menarikan tarian sakral, sedangkan Tari Rejang Papag Rurung untuk menjemput para penari.Nyoman Tarma, Penyarikan Desa Pekraman Sidetapa, menambahkan bahwa beberapa tarian seperti Tari Rejang Penundung hingga Tari Rejang Ginangring dipentaskan oleh anak-anak atau remaja, sedangkan tiga tarian lainnya, yaitu Tari Rejang Renteng, Rejang Legong Manis, dan Rejang Legong Bantes, ditarikan oleh orang dewasa. Jumlah penari dewasa biasanya tujuh orang, melambangkan dedari atau bidadari.Desa Sidetapa juga memiliki tetabuhan khas seperti Palian Taksu dan Tabuh Taksu, yang sangat sakral dan biasanya digunakan untuk mengiringi penari yang kerauhan. Selain itu, desa ini juga memiliki tarian lainnya seperti Tarian Jangkang, Tarian Menggung, Tarian Ngaleganti, Tarian Ngabwang, Tari Pendet, dan Tari Baris.Pihak desa berusaha mengajarkan tarian-tarian ini kepada anak-anak dan remaja sejak dini untuk mencegah perkawinan usia dini yang masih sering terjadi. Dengan begitu, ketika mereka dewasa, mereka sudah memahami dan mencintai tarian khas Desa Sidetapa, sehingga mereka lebih memilih untuk melestarikan adat dan budaya desa.Selain tarian, upacara adat di Desa Sidetapa juga sangat penting. Salah satu upacara besar adalah Upacara Beriang Agung, yang diadakan setiap tiga tahun sekali di Pura Desa. Tujuannya adalah untuk "ngerebeg nyiatin satru" atau menyingkirkan musuh berupa buta kala. Upacara ini melibatkan perburuan kijang di hutan belantara.Ada juga Upacara Sanghyang Gandrung, sebuah upacara pecaruan yang berlangsung selama 42 hari. Upacara ini ditandai dengan tarian simbolis, di mana Sanghyang ditarikan oleh dua wanita lajang sebagai simbol dedari, sedangkan Gandrung ditarikan oleh laki-laki yang berpakaian wanita sebagai simbol genderuwo. Upacara ini juga diadakan setiap tiga tahun sekali.Seluruh warga desa terlibat dalam upacara pecaruan ini, yang dilakukan di masing-masing rumah atau pintu gerbang rumah. Pada penutupan upacara Sanghyang Gandrung, diadakan puncak acara berupa "mesuang tegen-tegenan" seperti pale bungkah dan pale gantung.
Air Terjun MampahWilayah Bali Utara terkenal dengan pesona alamnya, termasuk beberapa air terjun yang menakjubkan. Salah satu air terjun yang ada di sini adalah Air Terjun Mampah, yang terletak di Desa Sidetapa, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Meskipun keberadaan air terjun ini belum begitu dikenal seperti Air Terjun Gitgit dan Sekumpul, keindahannya tak kalah memukau.Jika Anda melintas dan berkunjung ke desa Baliaga di Bali Utara, yang merupakan salah satu destinasi desa tua di Bali, cobalah mampir ke Desa Sidetapa. Di sana, terdapat Air Terjun Mampah yang jarang didatangi wisatawan. Air terjun ini dapat dijangkau dengan berkendara sepeda motor, sekitar dua kilometer dari pusat Desa Sidetapa, dengan waktu tempuh sekitar lima menit.Keberadaan Air Terjun Mampah mungkin masih asing bagi banyak orang, namun keindahan yang ditawarkannya tidak kalah dengan air terjun Gitgit maupun Sekumpul. Sebelum mencapai air terjun, pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang masih asri, yang membuat perjalanan menuju air terjun ini terasa menyenangkan.Di tengah perjalanan, suara gemercik dan derasnya air terjun sudah terdengar, dan sesampainya di air terjun, Anda akan disambut dengan dinginnya air dan sumber mata air jernih yang menyegarkan. Suasana air terjun yang tenang dan alami menjadikannya tempat yang indah untuk dinikmati. Selain untuk wisatawan, air terjun ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk kehidupan sehari-hari seperti mandi dan minum.Selain air terjun, Desa Sidetapa juga menawarkan pemandangan yang khas dengan suasana pedesaan. Mayoritas penduduknya adalah pengrajin bambu, menjadikannya pemandangan yang unik dan layak dikunjungi. Wisatawan hanya perlu menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari Kota Singaraja untuk mencapai Desa Sidetapa.Kurangnya informasi dan sarana prasarana penunjang wisata membuat air terjun ini belum banyak diketahui orang. Diharapkan ke depannya Air Terjun Mampah dapat dibangun dan dikembangkan lebih lanjut, sehingga pariwisata di daerah ini dapat merata.sumber : link
Ekowisata Cengkeh dan DurianCengkeh adalah salah satu rempah yang sangat identik dengan Indonesia. Dengan aroma dan khasiatnya yang khas, tanaman ini selalu menarik perhatian. Hal ini juga berlaku di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Selain dikenal sebagai desa penghasil anyaman bambu, penduduk di sini juga memilih berinvestasi dalam budidaya cengkeh.Meskipun keseharian masyarakat Desa Sidetapa adalah sebagai pengrajin anyaman bambu, ketika musim cengkeh tiba, mereka lebih memilih untuk bertani cengkeh. Selain memiliki nilai jual tinggi, cengkeh juga telah banyak mengubah kehidupan masyarakat setempat. Saat panen tiba, seluruh penduduk, dari dewasa hingga anak-anak, bersemangat membantu para petani cengkeh.Alasan mereka bervariasi; selain mendapatkan upah, panen cengkeh di Desa Sidetapa jarang terjadi dan berlangsung cukup lama, tergantung pada kondisi cuaca. Pohon cengkeh baru bisa dipanen setelah sekitar lima tahun, dengan masa panen yang berlangsung antara enam bulan hingga satu tahun. Proses panen dimulai dengan memetik cengkeh dari pohonnya, kemudian dikupas dan dipisahkan dari daunnya, sebelum akhirnya dijemur selama beberapa hari hingga kering.Cengkeh di Desa Sidetapa dikelola secara pribadi oleh masyarakat setempat, dengan pemasaran dilakukan di sekitar desa sebelum dikirim ke Singaraja. Keuntungan yang diperoleh para petani bervariasi, mulai dari lima juta hingga lebih dari lima belas juta rupiah per panen. Bisnis cengkeh ini sangat layak untuk dilestarikan karena selain meningkatkan perekonomian, pohon cengkeh juga membantu mencegah tanah longsor dan membuat lingkungan lebih hijau. Cengkeh, dengan sejarah panjangnya sebagai komoditas yang diperebutkan banyak bangsa, tetap menjadi tanaman penting dengan berbagai manfaat ekonomis yang signifikan.sumber : link