Profil Desa
Salah satu desa tua di Bali yang masih bertahan meski diterpa waktu adalah Desa Sidatapa Baliaga, terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa Sidatapa berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian 450 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas wilayah sekitar 965,43 hektar. Desa ini berbatasan dengan Desa Tampekan di utara, Banjar Dinas Corot Desa Cempaga di timur, Desa Cempaga di selatan, dan Banjar Dinas Pegentengan Desa Banjar di barat.Selain keindahan alam yang sejuk serta budaya dan tradisi yang menarik seperti tempat-tempat lainnya di Bali, Desa Sidatapa juga memiliki beberapa peninggalan sejarah yang masih berdiri hingga kini, salah satunya adalah rumah adat kuno yang disebut bale gajah tumpang salu. Rumah adat ini merupakan salah satu yang tertua di Bali, berdiri sekitar tahun 785 Masehi.Keunikan lain dari Desa Sidatapa adalah mayoritas penduduknya merupakan pengrajin anyaman bambu khas Sidatapa, yang bahkan telah menembus pasar internasional. Selain itu, terdapat tari-tarian dan ritual khas desa yang sulit ditemukan di tempat lain di Bali, seperti tari rejang, tari jangkrang, tari ngabuang, ritual sang hiyang gandrung, dan pengabenan tradisional.Diharapkan booklet ini dapat memberikan informasi dan wawasan bagi para pembaca tentang peninggalan budaya dan tradisi di Desa Sidatapa, sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat Desa Sidatapa dan umumnya masyarakat Bali.Luas wilayah Desa Sidatapa adalah 965,43 hektar, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:- Sebelah Utara: Desa Tampekan- Sebelah Timur: Banjar Dinas Corot Desa Cempaga- Sebelah Selatan: Desa Cempaga- Sebelah Barat: Banjar Dinas Pegentengan Desa BanjarDesa Sidetapa terdiri dari tiga dusun:1. Banjar Dinas Dajan Pura2. Banjar Dinas Delod Pura3. Banjar Dinas Lakah
Peta Desa
Potensi Desa
Acara
08 Februari 2022
Desa Sidatapa di Kecamatan Banjar, Buleleng, dikenal dengan tradisi unik yang disebut "Maturan Duren," sebuah upacara adat yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas panen durian yang melimpah.Sebagai salah satu desa Bali Aga di Kabupaten Buleleng, Desa Sidatapa memiliki berbagai tradisi unik, termasuk upacara "Maturan Duren" yang menggabungkan adat dan ritual. Dalam tradisi ini, warga desa (krama ngarep) mempersembahkan tiga buah durian kepada leluhur, di mana satu buah durian akan dibawa pulang kembali dan dua buah lainnya disantap bersama setelah upacara selesai.Kelian Adat Desa Sidatapa, Putu Kasma, menjelaskan bahwa tradisi ini diwariskan secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen durian. "Persembahan ini dilakukan oleh krama ngarep tergantung panennya," ujarnya pada acara yang berlangsung Selasa, 8 Februari 2022.Kepala Desa Sidatapa, Ketut Budiasa, menyatakan bahwa pihaknya bersama tokoh adat berusaha untuk mengemas tradisi ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Sidatapa, sehingga tradisi ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. "Harapan kami, warisan yang bijaksana ini bisa dikenal oleh lebih banyak masyarakat di Buleleng," ungkapnya.Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dodi Sukma Oktiva Askara, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan rencana untuk memasukkan tradisi "Maturan Duren" dalam kalender acara wisata. "Kami sudah berdiskusi dan ke depan kami akan mencari konsep agar tradisi adat dan budaya ini tetap ajeg dan bisa dijadikan agenda acara," pungkasnya.sumber : link
25 September 2024
Tari Rejang adalah tarian sakral khas Bali yang ditarikan oleh perempuan sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Tarian ini terkenal di Desa Sidetapa, Buleleng, dan memiliki peran penting dalam upacara keagamaan desa.Lokasi dan PelaksanaanLokasi: Tari Rejang ditampilkan di pura-pura desa seperti Pura Desa Bale Agung. Latihan tari sering dilakukan di halaman sekolah atau balai desa.Waktu: Pertunjukan tari dilakukan pada saat piodalan (upacara keagamaan) dan Hari Raya Galungan serta Kuningan. Latihan rutin diadakan oleh komunitas desa.Penampilan dan MaknaPakaian dan Aksesoris: Penari mengenakan pakaian tradisional Bali yang terdiri dari kain kemben, selendang, dan hiasan kepala yang dihiasi bunga-bunga segar.Gerakan: Gerakannya lemah gemulai, melambangkan kesucian dan rasa hormat. Setiap gerakan dirancang untuk menyambut dan memuliakan kedatangan dewa-dewa yang dipercayai turun ke bumi selama upacara.Fungsi dan SignifikansiTari Rejang berfungsi sebagai media spiritual yang menghubungkan manusia dengan dunia ilahi. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bentuk doa dan pemujaan yang membantu menjaga keseimbangan spiritual dalam masyarakat desa. Melalui tarian ini, nilai-nilai budaya dan tradisi diwariskan dari generasi ke generasi, memperkuat identitas dan kebersamaan komunitas.Latihan dan Pelestarian: Anak-anak dan remaja di Desa Sidetapa diajarkan Tari Rejang sebagai upaya pelestarian budaya. Kegiatan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan tradisi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memberikan pengalaman mendalam bagi pengunjung.Dengan kekayaan budaya dan nilai-nilai spiritual yang terkandung, Tari Rejang menjadi salah satu aset penting dalam kebudayaan Bali, khususnya di Desa Sidetapa.
Berita
Desa Sidetapa di Bali, yang termasuk dalam kategori Bali Aga atau penduduk asli, terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Nama "Sidetapa" berasal dari kata "side" yang berarti bisa, dan "tapa" yang berarti bertapa atau bersemedi. Didirikan sekitar tahun 785 Masehi, desa ini memiliki beberapa keunikan menarik:Tempat suci Kahyangan Batu Kerotok di desa ini terdiri dari kumpulan batu-batu kecil di tepi tebing tanpa pelinggih, yang dipercayai memiliki kekuatan suci. Masyarakat meyakini bahwa membuat bangunan suci di sana tidak pantas, dan mengharuskan orang yang lewat untuk meminta izin agar tidak terganggu.Pura Parahyangan Taman Kayuan Mas di Tukad Tibu Sagi atau Mampeh dianggap tempat suci untuk pembersihan atau melasti, dengan upacara pakiisan kauh dilakukan setiap tiga tahun sekali untuk menyucikan perlengkapan upacara.Sejarah Desa Sidetapa mencatat masa pemerintahan Raja Maya Danawa pada zaman Kerajaan Bedahulu, yang dipuja secara sembunyi-sembunyi oleh masyarakat Bali Aga karena sifatnya yang tirani. Masyarakat Sidetapa membangun tempat pemujaan untuk dewa-dewa mereka di dalam rumah mereka.Dewa dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa disebut sebagai Ida Panembahan di Sidetapa, dengan kekuatan delapan taksu yang dihormati secara khusus selama upacara adat seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan.Berbeda dengan desa-desa lain di Bali, Sidetapa tidak memiliki konsep Tri Kahyangan, tetapi pusat spiritualnya adalah Pura Desa Bale Agung, yang terletak di bagian paling suci desa.Desa Sidetapa tetap mempertahankan tradisi dan kepercayaan warisan leluhurnya di tengah perubahan zaman, menunjukkan kekayaan budaya yang patut dilestarikan di Bali.Sumber : link
BacaKontak