Profil Desa
Desa Tenganan adalah salah satu desa Bali Aga, yang berarti desa asli Bali sebelum pengaruh Hindu datang dari Jawa. Desa ini terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, dan terkenal karena mempertahankan tradisi dan adat istiadat leluhur dengan sangat ketat. Sejarah desa ini terkait erat dengan legenda Bali Aga dan proses penyebaran agama Hindu di Bali.Menurut legenda, desa ini didirikan oleh keturunan dari para dewa yang memilih tinggal di wilayah pegunungan yang indah dan subur. Mereka adalah kelompok masyarakat yang mempertahankan adat dan budaya asli Bali sebelum datangnya pengaruh dari luar, terutama Hindu-Jawa. Salah satu cerita yang terkenal adalah tentang Raja Jayapangus yang menerima desa ini sebagai hadiah dari Dewa Indra.Nama Tenganan diyakini berasal dari kata "ngatengahang" yang berarti "bergerak ke tengah," mengacu pada pusat kekuasaan spiritual desa ini. Penduduk Tenganan dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam dan spiritualitas, yang tercermin dalam berbagai ritual dan upacara adat yang mereka lakukan sepanjang tahun.Desa ini juga dikenal dengan sistem kalender khusus yang berbeda dengan kalender Bali pada umumnya. Kalender ini digunakan untuk menentukan waktu pelaksanaan upacara adat dan kegiatan sehari-hari. Salah satu acara adat yang paling terkenal adalah Mekare-kare atau Perang Pandan, di mana para pemuda desa berduel menggunakan daun pandan berduri sebagai bagian dari ritual untuk menghormati Dewa Indra.Selain itu, Tenganan juga terkenal dengan kain tenun ikat ganda yang disebut Gringsing. Proses pembuatan kain ini sangat rumit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Kain Gringsing dianggap sakral dan digunakan dalam berbagai upacara adat.Struktur desa Tenganan juga sangat unik, dengan rumah-rumah tradisional yang tertata rapi dan mengelilingi balai desa dan pura utama. Desa ini dikelilingi oleh tembok batu yang menandakan batas wilayah suci dan memisahkannya dari dunia luar. Sistem pemerintahan adat yang masih kuat mengatur kehidupan sosial dan kegiatan sehari-hari masyarakat desa.Melalui perjalanan sejarah yang panjang, Desa Tenganan berhasil mempertahankan keaslian budayanya. Hingga saat ini, desa ini tetap menjadi salah satu destinasi budaya yang menarik di Bali, menawarkan pengunjung kesempatan untuk menjelajahi dan memahami warisan budaya Bali yang kaya dan autentik.
Peta Desa
Potensi Desa
Acara
11 Juni 2023
Perang Pandan di Desa Tenganan adalah sebuah ritual tradisional yang unik dan penuh makna, yang juga dikenal dengan nama Mekaré-karé. Berikut adalah deskripsi detailnya:Deskripsi Perang Pandan (Mekaré-karé)Latar Belakang Ritual:Mekaré-karé merupakan bagian integral dari rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang diadakan setiap tahunnya di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Upacara ini merupakan momen puncak yang dipenuhi dengan kegiatan spiritual dan keagamaan.Waktu Pelaksanaan:Ritual Mekaré-karé berlangsung selama sebulan penuh, biasanya pada bulan Juni. Selama periode ini, desa dipenuhi dengan kegiatan persiapan dan pelaksanaan upacara yang melibatkan seluruh masyarakat.Peserta:Acara ini diikuti oleh para laki-laki dari segala usia, dari anak-anak hingga orang tua. Mereka yang berpartisipasi mengenakan pakaian adat dan bersiap untuk bertempur menggunakan senjata tradisional berupa daun pandan yang dipotong-potong.Senjata dan Perlengkapan:Daun Pandan: Senjata utama dalam Mekaré-karé adalah daun pandan yang dipotong sepanjang sekitar 30 cm. Daun ini memiliki duri-duri kecil yang dapat menyebabkan luka ringan pada kulit.Tameng: Setiap peserta dilengkapi dengan tameng tradisional yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya, digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan.Prosesi Pertempuran:Para peserta saling berhadapan dalam arena yang telah disiapkan di desa. Mereka saling menyerang dan bertahan dengan menggunakan daun pandan sebagai simbol perlawanan dan keberanian.Pertempuran diiringi dengan suara tabuhan gamelan selonding khas Desa Tenganan, menciptakan suasana yang khas dan menguatkan semangat para peserta.Makna dan Filosofi:Mekaré-karé bukan sekadar pertunjukan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam. Pertempuran dengan daun pandan melambangkan pengorbanan dan kekuatan, sementara prosesi ini juga dianggap sebagai upaya untuk membersihkan diri dari energi negatif dan memperkuat solidaritas komunitas.Setiap luka yang dihasilkan dari pertempuran dipercaya dapat disembuhkan dengan ramuan tradisional yang terbuat dari tanaman obat-obatan lokal.Penutupan dan Perayaan:Setelah pertempuran selesai, acara ditutup dengan upacara persembahan dan doa kepada leluhur. Masyarakat Desa Tenganan kemudian merayakan kesuksesan dan kebersamaan dengan makan bersama dan kegiatan sosial lainnya.Perang Pandan atau Mekaré-karé bukan hanya sebuah ritual perang fisik, tetapi juga simbol dari kekompakan dan kekuatan spiritual masyarakat Desa Tenganan dalam menjaga dan memperkuat warisan budaya mereka. Ritual ini menunjukkan kegigihan mereka dalam mempertahankan tradisi yang kaya akan makna dan nilai-nilai budaya.
Berita
Desa Tenganan, atau dikenal sebagai Tenganan Pegringsingan, adalah salah satu desa kuno di Bali yang menawarkan wisata budaya yang unik. Desa ini mempertahankan pola kehidupan yang mencerminkan kebudayaan dan adat istiadat Bali Aga, yang berbeda dari desa-desa lain di Bali. Karena hal ini, Desa Tenganan telah dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya yang menarik.Desa Tenganan Pegringsingan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km dari Kota Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem. Desa ini juga berjarak sekitar 5 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan sekitar 65 km dari Kota Denpasar.Keunikan utama desa ini terletak pada sistem kemasyarakatan yang mereka kembangkan. Masyarakat Tenganan terdiri dari penduduk asli desa, yang sistem perkawinannya mengikuti pola parental. Ini berarti bahwa perempuan dan laki-laki memiliki status yang setara dalam keluarga dan berhak menjadi ahli waris. Berbeda dengan kebanyakan masyarakat Bali, mereka juga menganut sistem endogami di mana pernikahan hanya boleh dilakukan di dalam desa. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat mengakibatkan seseorang dikeluarkan dari masyarakat Tenganan.Salah satu atraksi utama dari Desa Tenganan adalah ritual Mekaré-karé, atau yang lebih dikenal sebagai "perang pandan". Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang dilaksanakan setiap bulan Juni selama 30 hari. Selama periode tersebut, Mekaré-karé diadakan beberapa kali, di mana para laki-laki dari segala usia berpartisipasi dalam pertempuran menggunakan daun pandan yang dipotong sebagai senjata dan tameng. Luka-luka akibat dari pertempuran ini kemudian diobati dengan ramuan tradisional.Upacara Mekaré-karé memiliki makna yang mendalam, sebagaimana halnya upacara tabuh rah yang dilakukan oleh umat Hindu Bali dalam upacara keagamaan mereka. Selama ritual ini, mereka juga menemani dengan musik gamelan selonding khas Desa Tenganan.Desa Tenganan juga terkenal dengan kerajinan tenun kain Gringsing, yang merupakan keunikan tersendiri tidak hanya di Bali tetapi juga di Indonesia. Proses pembuatan kain Gringsing memakan waktu yang lama, bahkan hingga 3 tahun, karena proses tenun double ikat yang rumit. Kain ini sangat bernilai dan menjadi bagian penting dalam upacara adat seperti ngaben (pembakaran jenazah) dan upacara potong gigi.Selain kekayaan budaya dan kerajinan, Desa Tenganan juga menawarkan potensi wisata alam sebagai alternatif jalur trekking. Wisatawan dapat menikmati perjalanan melalui jalan desa, perbukitan, dan sawah-sawah penduduk dengan rute pendek yang dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 3-4 jam.Sumber : link
BacaKontak